Jumat, 18 Januari 2019

Cinta Ali kepada Fatimah

Jadilah seperti Ali bin Abi Tholib yang mencintai Fatimah Azzahra dalam diam
Tak satu pun orang tahu karena cintanya disimpan begitu dalam

Tak sesumbar kata kata cinta bak pujangga
Ataupun menebar rayuan manja tak bermakna

Hanya selalu menyebutnya dalam doa di sepertiga malam
Mengadukan pada Sang Maha Cinta tentang rasa yang selama ini terpendam
Tatkala semua mata tengah lelap terpejam

Sempat gusar hatinya ketika mendengar Abu bakar dan Umar datang lebih dulu melamar

Namun takdir Allah mengatakan..
Bukan mereka yang harus bersanding dengan Fatimah di pelaminan
Betapa Bahagianya Ali tak tertahan

Perasaan gusar tergantikan oleh semangat ikhtiar yang kembali berkobar


Hingga pada akhirnya..
Ali bin Abi Tholib memetik hasil dari buah kesabaran dan kegigihannya
Fatimah Azzahra.. nama yang selalu ia sebut dalam doa
Ternyata memiliki rasa yang sama

Allah pun membuktikkan perkataan Nya
Bahwa jodoh takkan lari kemana

Senin, 24 September 2018

DIA


Namanya..
Selalu ku sebut dalam doa

Tak lupa ku bingkai dengan sholawat
Berharap suatu saat dia ku dapat

Namun takdir berkata tak sepemikiran
Ingin ku dan kehendakNya ternyata tak sejalan

Dia yang ku ingin
Bersama dengan yang lain

Sedih sudah pasti
Tapi tak boleh terlalu diratapi

Mungkin seorang yg lain telah dipersiapkan Rabb ku
Yang sudah ditulis di lauful mahfudz untuk ku semenjak dahulu

Senyum ku mulai merekah
Tatkala tau ketentuanNya begitu indah

Namanya yg selalu ku sebut dalam doa di sepertiga malam
Perlahan mulai tenggelam
Tergantikan oleh cinta tulus Rabb ku yang menusuk masuk di relung hati yg terdalam

Aku tersentak dari lamunan
Aku.. manusia pendosa telah terpana melihat ciptaan Rabb ku yang begitu menawan
Kemudian ku idamkan dia jadi imam impian
Lupa bahwa manusia hanya bisa berkeinginan
Selebihnya adalah hak Yang Punya Keputusan

Kini ku ikhlaskan dia bahagia dengan yang ditakdirkan Rabb ku untuknya
Biar ku disini menanti dalam taat di jalanNya
Aku tak berdiri sendirian tentunya
Ada Rabb ku.. kekasih hati yang sesungguhnya













Kamis, 31 Mei 2018

BICARA SOAL HATI



Sebuah batu yang begitu keras saja bisa terkikis jika terkena tetesan air setiap harinya
Tapi kenapa hati manusia yang keras sulit sekali melunak
Padahal sudah dijejali nasihat setiap saat?
Is there something wrong here?


Hati-hati dengan hati
Selalu jaga hati dengan sepenuh hati
Dekatkan hati dengan Yang Maha Membolak-balikkan hati
Karena ternyata.. penyakit hati sulit sekali terobati
Kalau sudah begini.. lantas apa yang harus diperbaiki?
Coba resapi, pahami,renungi, perbanyak muhasabah diri
Tanyakan pada Sang Ilahi
Mengapa hati jadi begini


Seperti sebuah syair nasyid islami
Jagalah hati jangan kau kotori
Jagalah hati lentera hidup ini


Jika hati ini telah terkotori..
Lantas hidup ini siapa lagi yang akan menerangi


Hati jangan hanya diisi oleh si doi
Yang kita tidak tahu siapa jodohnya nanti
Isi hati dengan sesuatu yang bermakna penuh arti
Agar hati senantiasa selalu terlindungi
Dari segala macam godaan syaiton yang haqiqi


Bicara soal hati memang harus hati-hati
Terluka sedikit saja.. sembuhnya tak cukup sehari
Apalagi jika hati telah terkontaminasi
Oleh rasa iri dan dengki
Penyakit hati yang seringkali terjadi


Selalu tanamkan iman dalam hati
Karena iman menjadi penawar racun alami
Yang dapat mengobati penyakit hati
Sehingga kelak kita dapat mencicipi
Sedikit manisnya nikmat syurgawi



Untuk ku dan hanya untuk ku

Jumat, 03 Juni 2016

KELUARGA (Part 2)

Ini lanjutan dari postingan Keluarga yang part 1 yah. bagi yang belom baca part 1 nya, cuss baca dulu :

 

Terakhir, gue akan ceritain dua orang paling berharga dalam hidup gue. Tanpa mereka berdua gue nggak akan ada di dunia ini. Iya, ibu bapak gue tercintah (pake “h”). Bagi gue, bapak itu udah kaya superman,superhero  yang kuat dan tangguh. Bekerja keras siang dan malam tanpa kenal lelah. Eh, bapak gue nggak sendirian, ada partner paling loyalnya yaitu ibu gue, yang siap bekerja sama demi misi mulianya menghidupi keluarga. Kalo bapak gue superman, ibu gue juga nggak kalah tangguh. She’s like a wonder woman, super hero wanita yang kuat.



Kadang gue suka sedih ngeliatnya. Di usia mereka yang semakin tahun semakin bertambah mereka masih harus bekerja keras mencari nafkah. Tapi ibu gue bilang ini sudah menjadi konsekuensi kita terlahir sebagai manusia yang hidup di dunia.

Kalo melihat anak bahagia, ibu sama bapak juga ikut bahagia. Ibu bapak nggak akan minta dibiayai hidup sama anak selagi ibu sama bapak masih bisa dan kuat mencari. Cuma satu pesan ibu sama bapak, jangan lupa orang tua.”  Itu kata bapak ibu gue bilang.



Gue percaya kalo ada istilah “kasih ibu sepanjang masa”.  Ketika anaknya sakit, setua apapun usia anaknya, yang namanya ibu pasti kasih perhatian lebih. Terkadang kita sebagai anak malah yang lupa sama orang tua. Cuma sekedar telpon dan bilang, “mah.. aku sehat” aja kita lalai. Padahal di kampung halaman orang tua memikirkan anaknya di rantau, menunggu telepon berdering berharap itu dari anaknya.



Gue juga nggak habis pikir sama anak yang tega membunuh ayah atau ibunya. Itu manusia apa setan kerasukan iblis? Loe nggak mikir ape, mereka berdua bekerja mati-matian buat ngidupin nyawa loe, tapi loe malah menghilangkan nyawanya. Yassalaam.



Oh iya, satu lagi anggota keluarga yang mau gue ceritain. Yes, there are my Trio Angels. Tiga keponakan perempuan gue yang super duper unyu. Keponakan gue yang paling gede sekarang lagi nyantri. Doi di masukkan ke “penjara suci” biar nggak ketularan gesrek kaya om-om dan tante-tantenya. Nah.. tersisalah dua ponakan gue yang paling kecil, yang super duper hiperaktif, yang jago banget ngerubah kondisi rumah jadi berantakan kaya kapal kegulung ombak terus nabrak karang, udah gitu tenggelam.  Mereka berdua itu sehati banget kalo kata gue. Kalo deket berantem mulu, tapi kalo jauh saling rindu. Duh.. udah kaya kisah cinta anak ABG aja yaa.


(Mintanya sih dibilang mirip sama Rumana di tukang bubur naik haji. Iyain aja yaa biar cepet)



(Nih.. kenalin, Sheeran Sungkar ame Zaskia Sungkar)


Kehadiran semua anggota keluarga besar gue buat hari-hari gue jadi seru. Tiada hari tanpa tawa dan bullyan. Mau lagi ada duit atau nggak ada duit, tetep aja ketawa. Ini bahagia atau tanda-tanda stress karena nggak ada duit yaa?



Dear my beloved family,

Terima kasih buat semua kakak, ade dan ponakan gue, wabil khusus untuk kedua orang tua gue, Brad Pit dan Angelina Jolli (loh loh loh !!!). Makasih selama 20 tahun ini udah mondar mandir di kehidupan gue kaya nyamuk lagi cari darah suci (nggak deh, canda). Kalian semua bikin hidup gue jadi kaya permen nano-nano, ada manis ada asem ada asin ada ada aja. Ya meskipun banyak asemnya kali yaa. Hahaha. Dan mudah-mudahan di tahun-tahun berikutnya gue masih bisa ketawa bareng kalian.



Oh iya, gue nggak cantumin foto bapak ibu gue. Bukan karena gue ini anak durhaka, tapi orang tua gue yang nggak mau difoto, jelek katanya. Actually, you’re more handsome and more beautiful than Brad Pitt and Angelina Jolli. Iya, kalo dilihat dari pucuk menara Eiffel. Ampuunn maakk!!



Dari semua cerita di atas, gue bisa memetik beberapa hikmah yang dapat gue ambil. Pertama, bahagia itu ternyata sederhana. Bahagia nggak melulu dengan uang. Tanpa kita sadari Allah telah memberikan berjuta kebahagiaan di sekitar kita. Dan kita bisa merasakannya kalau kita mau bersyukur.

Kedua, untuk yang nggak punya pasangan dunia (baca : jomblo), nggak usah takut nggak akan merasakan apa yang namanya cinta. Karena cinta dan kasih sayang bukan hanya didapat dari seorang pacar. Ada cinta yang kekuatannya lebih besar dari cintanya seorang pacar. Yes, cinta dari keluarga. Kalo cintanya pacar, kalimat “I love you  sewaktu-waktu bisa berubah jadi “I hate you”.  Tapi kalo cintanya keluarga, “I love you  akan selamya “I love you”. Kalaupun berubah, maka jadinya “I’m very love you”. 
 

KELUARGA (Part 1)


Sebenernya gue udah kehabisan bahan buat nulis. Namanya juga blogger amatir. Nah.. disaat masa paceklik gue itulah, entah kenapa gue jadi keinget keluarga gue. Kenapa gue nggak nulis tentang keluarga gue aja. Ya mungkin menurut kalian ini semua nggak penting. Tapi memang tulisan gue sebelumnya juga nggak ada yang penting. This blog just for fun beibehhh!! Postingan di blog gue memang banyak gue ambil dari kehidupan sehari-hari gue. So, gue ambil keputusan buat tulis tentang keluarga gue. Karena gue pikir ini akan menarik. Tapi nggak tau kalo dalam pemikiran kalian yaa.


Keluarga, the best part of my life.Tanpa mereka mungkin gue nggak akan bisa jalani hidup yang bagaikan roller coaster. Kadang naik, kadang turun, kadang nikung tiba-tiba, kadang juga jungkir balik. Kalo kita nggak kuat mental dan fisik, kita bisa mual dan muntah-muntah atau bahkan pingsan mengenaskan. Nggak beda jauh sama yang namanya kehidupan. Keluarga.. udah kaya nafas buat gue. Ketika gue down dan ada keluarga di sisi gue, gue berasa dapet asupan oksigen baru yang buat gue bangkit kembali.



Keluarga gue masuk dalam kategori keluarga besar. Kalo semuanya lagi ngumpul, kondisi rumah tuh udah kaya penampungan korban bencana alam. Orang tergeletak dimana-mana. Gue punya banyak kakak dan adik. Dan mereka semua beraneka ragam tingkah dan sifatnya. Ada salah satu kakak perempuan gue yang kalo ngomel suaranya cempreng kaya kaleng rombeng, ada juga ade gue yang kalo nyanyi suaranya merdu banget. Sangking merdunya, kuping gue sampe minta disumpel pake semen tiga roda. Jarak umur kita nggak terlalu jauh. Tinggi badan kita pun sama rata. Iya.. ibarat pohon, kakak gue pohon kelapa, sedangkan gue kecambah toge yang gagal tumbuh.


(di sebelah kiri itu ade gue. Keselek kurma arab jadi kaya begitu bentuknya. Sedangkan di sebelah kanan itu kakak gue. Kebanyakan nonton naruto buat dia pengen jadi warga konoha)

Ada yang bilang kita ini kakak ade yang akur. Sebenernya sih nggak sepenuhnya akur. Dua ade gue masih sering perang kata-kata. Iyaa, mereka pada ngatain kekurangan fisik masing-masing. Gue sebagai kakak sih seru aja liatnya. Kalo peperangan udah mencapai klimaksnya, baru gue bertindak. Gue maju ke tengah dan teriak, “stooppp!!! Teengg!!! Cusss mulai lagi”.



Hahaha. Nggak deh, gue bercanda. Kita memang jarang berantem. Gimana mau berantem, ketemu aja jarang. Keluarga ngumpul semua paling kalo pas momen-momen tertentu, misalnya lebaran. Jadi apa yang mau diributin. Kalo kita lagi pada ngumpul, kita lebih banyak cerita, bercanda dan mengungkapkan bully-an yang selama ini terpendam dalam hati. Hahaha. Sebenernya sih  kita cuma ingin menjalankan pesan ibu bapak . Orang tua gue pernah berpesan, jadi keluarga yang akur, karena kita ini keluarga besar. Jangan sampe berantem-berantem  apalagi sampe pukul-pukulan. Kasihan juga kakak gue yang kurus, nanti doi patah tulang susah ngobatinnya. Piece bang, canda.



Dibandingkan dengan kakak cewe, gue lebih sering rumpi bareng kakak cowo. Lagian kalo sama kakak cewe, ngomongin shopping ame gue, manusia berfulus limit plus berprinsip irit cenderung pelit,yaa kagak nyambung. Sejak kecil memang gue lebih banyak main bareng kakak cowo. Waktu kecil, gue pernah diajak main bola sama kakak gue. Kakak gue jadi striker, sedangkan gue disuruh jadi kiper. Padahal itu cuma tipu muslihat kakak gue biar gue bisa dijebret pake bola. Disitu kita berdua sama-sama nangis.  Gue nangis kesakitan, kakak gue nangis bahagia. Baek bener yah kakak gue -__-



Sekarang ketika kita semua udah pada gede, kita masih suka bercanda. Tapi nggak semateng dan segokil dulu waktu kita kecil. Gue udah nggak lagi dijebret pake bola. Kata-katain fisik juga udah biasa terjadi di lingkungan keluarga gue. Pokoknya  nggak ada yang cantik atau ganteng diantara kita. Semua pasti dikatain jelek. Gue aja udah tabah dan tegar dikatain gendut. Kata kakak gue, ini adalah bentuk kasih sayang, macam panggilan sayang gitu. Panggilan sayang dari Hongkong???  Gue iyain ajalah biar cepet.



Sampe sekarang gue masih sering diajak rumpi bareng kakak cowo gue. Dan gue jadi yang paling dungu diantara mereka. Lagian ngobroloinnya masalah otomotif, underbond lah, velg racing lah, knalpot racing lah. Mana gue paham begituan?  Muka racing ada nggak? Gue mau beli. Dan imbas dari gue sering ngerumpi nggak jelas bareng mereka adalah gue jadi suka MotoGP. Dan kalian pasti udah tau siapa idola gue. Yes, the one and only Valentino Rossi. Seru sih ngobrol bareng mereka, jadi sedikit nambah wawasan gue.



Biarpun gue lebih sering bareng kakak cowo, bukan berarti gue jadi perempuan tomboy lho. Insya Allah gue akan menjaga takdir gue sebagai perempuan muslim. Sedini mungkin ibu gue membekali diri gue biar gue nggak jadi perempuan yang “belok”. “Sesungguhnya Allah melaknat perempuan yang menyerupai laki-laki dan sebaliknya”.  Itu perkataan mamah dedeh yang selalu gue ingat.

Minggu, 15 November 2015

Tentang Raditya Dika




Kali ini gue akan cerita awal mula gue tau si manusia alay berjiwa multitalenta, Raditya Dika. Gue tau, ketika gue sebut namanya sekali saja, cewe-cewe di luar sana pada histeris kaya zombie lagi kelaperan. Kenapa gue cuma sebut namanya sekali, karena kalo disebut tiga kali bukan Raditya Dika lagi namanya, tapi Bento.




Semua orang tau Raditya Dika. Buku-bukunya jadi best seller dimana-mana. Jumlah follower di Twitternya 12 juta lebih. Dampaknya, 12 juta lebih penduduk Indonesia sekarang jadi alay. Dan menurut info yang gue dapat, ternyata anak dari bapak Presiden kita juga follow Twitter doi. Gue berharap ini nggak menular ke bapaknya. Karena bisa gawat kalo kita punya Presiden alay. Coba kalian bayangkan dalam awang-awang. Bisa rusak Negara kita.

“Minggu ini rapat paripurna di cancel aja dulu. Saya capek bingits, aduh masih jet leg beud nih!!”
“Baik pak, bisa di atur, bapak istirahat aja dulu, bobo ci4nK biar seger” (ternyata followernya bang Radit juga -___- )
“Kamu ini, biasa aja veleus!!”
“Keleus pa, bukan veleus”
“Sorry typo!!”

Gue nggak tau otak orang-orang diracuni apa, sehingga pada follow doi. Gue curiga, jangan-jangan yang follow bang Radit bukan cuma manusia, tapi juga ada wewe gombel merah jambu, kuntilanak setengah salmon, pocong kumal, suster ngesot jantan, dan hantu-hantu lain yang kejebak alay. Dan yang lebih mengenaskan lagi, gue pun ikut kecemplung ke dunia alay. Gue ikut-ikutan follow akun @radityadika. Gue alay cooyyy.




Pertama gue tau bang Radit itu dari youtube. Gue liat video doi lagi stand up. Kesan gue ketika liat bang Radit untuk pertama kalinya adalah lucu. Jokesnya bisa bikin ngocok perut. Kalo loe lagi PMS, gue saranin tonton stand up nya bang Radit, dijamin tuh perut makin sakit.


Banyak orang bilang kalo Raditya Dika itu pendek. Menurut gue nggak kok. Tingginya masih standar tinggi normal orang Indonesia. Tapi belakangan gue baru sadar, gue bilang kaya gitu karena gue liatnya pas bang Radit lagi stand up, dimana doi cuma berdiri sendirian.  Ketika bang Radit berjejer ame temen-temennya, ternyata eh ternyata.. ceper juga cooyyy. Ampun baaanggg!!! Tapi nggak papa ceper, biar ceper asal berkarya, iyee nggak bang??


Justru yang jadi pertanyaan gue adalah suara cemprengnya bang Radit. Ini aneh bet, bang Radit seumuran pubertas expired gini aja suaranya udah cempreng bet gitu, gimana dulu waktu kecil? Secempreng apa suaranya coba?? Mungkin suaranya udah mirip knalpot racing ninja 2 tak. Teng.. tereng.. teng.. teng.. tengggg!!! Nggak papa cempreng yee bang, biar cempreng asal berkarya. Hazeeekkk.


Tapi dibandingkan dengan kekurangannya, bang Radit punya banyak kelebihan. Kalian semua pasti senada dengan gue. Dan kelebihannya adalah “mempunyai banyak kekurangan” Hahahaa. Becanda coy bercanda. Doi memang punya banyak kelebihan. Nulis buku jagonya, sutradara juga, aktor juga bisa, komedian apalagi, alay yaa rajanya.


Bang Radit ini memang bener-bener jenius. Otaknya penuh dengan ide-ide cemerlang. Hasilnya adalah novel dan filmnya laris manis digilai anak muda. Hidupnya nggak bisa jauh-jauh dari menulis. Mau makan nulis, mau mandi nulis, mau tidur nulis, bahkan mau di bom aja nulis dulu kali.

“Radit.. awas dit, ada bom mau meletus!!”(dikiranya balon apa yaa)
“Apa iyaa?? Bentar gue nulis dulu.” -___-

Gue tau sekarang kenapa bang Radit ceper. Kalsium doi terlalu banyak diserap otak, jadi tulang nggak kebagian. Banyakin minum susu deh bang. Mungkin karena sibuk nulis juga, doi jadi lupa nikah. Di tengah-tengah temen-temen seumurannya yang udah pada nikah, doi masih belum juga bawa bebebnya ke penghulu.

“Bang kapan nikah bang?? Ibu-ibu aja udah pada nenteng jinjingan, kamu kapan nenteng anak??”
“ Nggak papa belom nikah, yang penting berkarya. Iyee nggak??”

Mirip Arab



Banyak orang mengira gue ini keturunan Arab. Padahal setahu gue, dalam garis keturunan keluarga gue nggak ada seorang pun yang keturunan orang Arab. Bapak ibu gue juga orang lokal semua. Dalam darah gue nggak mengalir sedikitpun darah blasteran Arab. Gue juga bingung kenapa orang-orang sebut gue keturunan Arab. Beda lagi sama adik gue. Adik gue bilang, gue bukan mirip orang Arab tapi lebih mirip onta Arab. Nah lho, ini sebenernya gue spesies apa?



Pernah gue lewat di depan sekelompok orang, nggak ada sapi nge-gym nggak ada apa, orang-orang itu teriak kaya kenek bus yang mau nurunin penumpang, “Arab.. Arab.. Woyy Arab.” Gue cuma bisa diem penuh keheranan diselimuti beribu pertanyaan. Ini orang sarafnya kejepit apa, masih di Tegal kok teriak Arab. Mungkin orang ini pengen naik haji kaya pa haji Sulam.



Gue sedikitpun nggak ada rasa seneng ketika dibilang mirip Arab. Karena dalam bayangan gue, orang Arab itu berbadan tinggi  besar dengan ekspresi wajah penuh kegarangan. “SEMENYERAMKAN ITU KAH DIRI GUE?”  Itu yang terlintas di otak gue ketika ada orang yang bilang gue mirip orang Arab.



Ada lagi satu kejadian yang lebih parah, di tempat waktu gue prakerin dulu. Atasan gue bilang,

“Bapak ibu kamu ada yang orang Arab ya?”
“Nggak ada pa, bapak ibu saya asli Indonesia”
“Kok kamu mirip orang Arab sih? Ini pasti nenek atau sesepuh kamu ada yang orang Arab”, kata atasan gue yang sok tahu.
“Nggak ada pa, keluarga saya asli dari lokal semua”
“Oohh.. atau mungkin hidung kamu inplan?”
“!@#%$^&*?>-____-“

Ya Allahurobbii.. salah apa aku ini? Tolong Aim ya Allah!!!



Ada satu lagi kejadian yang paling gue inget sepanjang masa. Ini beda seperti kasus-kasus sebelumnya. Orang ini nggak menyebut gue mirip orang Arab. Awalnya bahagia karena akhirnya ada orang yang nggak menyebut ge mirip orang Arab. Tapi ujung-ujungnya yaa bikin tepok jidat juga. Waktu itu lagi pelajaran bahasa Inggris. Gue yang duduk di kursi paling belakang saat itu tiba-tiba ditunjuk sama guru gue (sebut saja Mr. X) buat speaking english. Hati gue dag dig dug serr serasa mau disidang algojo takut nggak bisa jawab pertanyaannya.

Mr. X  : “Are you African?”
Gue sempet nggak percaya dan seraya berdoa mudah-mudahan gue salah denger. Gue nengok ke temen sebangku gue dan nanya ulang  ke temen gue itu.
“Ehh.. tadi nanya apa?”
“Are you African?”, jawab temen gue dengan nada sedikit menekan.

Ya Allah ternyata gue nggak salah denger. Ini guru gue sebut gue orang Afrika, berarti kulit gue… ?? (isi sendiri). Walaupun masih dalam keadaan hati yang masih rantah-berantah, gue tetep jawab pertanyaan dari Mr. X.

“Nope, I am Indonesian”, jawab gue sedikit nyengir jahat.

Dan salah gue adalah ceritain kejadian tersebut ke keluarga gue yang notabene tukang bullying orang. Bener prediksi gue,  kakak gue langsung mengeluarkan statement,
“Ya iyalah kamu disebut orang Afrika. Kulit kamu… pikir sendiri aja deh yaa. Hahaha”
Dia ketawa lebar banget kaya mulut kudanil yang lagi berkubang di dalam air.



Dan masih banyak lagi ucapan orang tentang diri gue. Mulai dari gue ini anak dapet nemu lah, anak anyut kiriman banjir dari Arab lah, ini lah, itu lah. Gue lelah jawabin itu semua gaes. Perlu gitu, gue tulis kata-kata “ I’m not Arabian” terus di tempel di jidat gue? Gue sempet nanya ke diri gue sendiri, kenapa nggak ada yang menyebut gue mirip orang India coba? Padahal gue ngarep tingkat dewa dibilang mirip Kareena Kapoor. Hahaha .



Tulisan ini sekaligus untuk menegaskan buat kalian bahwa gue ini bukan keturunan Arab ataupun Afrika. Gue orang Indonesia tulen tanpa divermak sedikitpun. Hidung gue Alhamdulillah masih asli hidung karunia dari Allah SWT. Yaa meskipun bentuknya agak absurd. Gue juga anak kandung dari bapak ibu gue. Gue tau gue banyak perbedaan sama kakak gue. Gue item, sedang kakak gue putih kaya batu kapur. Tapi gue punya bukti kuat yang membenarkan bahwa gue ini terlahir dari rahim yang sama. Gue punya akte kelahiran yang sah tercatat di kantor catatan sipil. Keren nggak tuh?



Mudah-mudahan setelah ini, nggak ada lagi yang nyebut gue mirip Arab atau anak temuan lagi. Yaa sekali-kali pujilah diri gue. Carilah kelebihan yang melekat di diri gue gitu. Sesungguhnya gue ini rindu akan pujian gaes. Misalnya, “ehh kamu tinggi banget yaa, mirip tirex yang hidup di jaman purba.”  Waadeziggg!!!  -_____-“
 

Diary Princess Sendal Selop Template by Ipietoon Cute Blog Design